#31dayswriting #Januarychallenge, day #8th! #flashfict

Goyangan perahu ini membuatku gelisah dan mual.

“Kamu tidak apa-apa?” ujar Bayu padaku sambil membalikkan badannya, “Kau tampak tidak sehat.”

“Begitulah. Sepertinya aku mabuk perahu.” jawabku.

“Ha! Mana bisa kamu selamat tanpa naik perahu? Mau berenang saja?”

“Ha-ha… Ayolah Bay, kau tahu aku belum terbiasa.”

“Ya sudahlah. Pokoknya terus mendayung.”

Bayu kembali menatap ke depan. Kembali mendayung perahu kecil ini.

Aku merasa sangat asing di dunia ini. Semua terlihat familiar memang, namun… berbeda. Aku bisa melihat beberapa gedung yang biasa kulihat di Sudirman, hanya saja mereka terendam sebagian dengan di bagian atas air-nya digunakan sebagai pemukiman secara paksa.

Aku baru mencapai “dunia” ini tadi pagi. Entah bagaimana, aku terjatuh ke dalam lipatan antar dimensi atau apalah, membuatku terdampar di sini. Tempat yang sama namun sangat lain. Jakarta 2114, seratus tahun ke depan dari masa aku hidup.

Untunglah aku ditemukan oleh Bayu yang mau mencoba mengerti keadaanku meski kejadian ini sangat di luar nalar. Saat ini kami sedang mendayung perahu pribadi ke rumahnya.

“Bay,”

“Ya?” timpalnya tanpa menengok.

“Sejak kapan sih Jakarta jadi seperti ini?”

“Maksudmu seperti ini?”

“Yaa, tenggelam seperti ini. Air dimana-mana dan yang tersisa hanyalah gedung-gedung yang dulunya tinggi.”

“Entahlah. Sepanjang 19 tahun aku hidup, sudah selalu seperti ini.”

“Oh…”

“Tapi mitosnya, ini gara-gara kebijakan salah seorang Gubernur dulu. Untuk menanggulangi banjir dan bencana, ia bukannya membereskan infrastruktur atau merencanakan pencegahan, malah sekedar mengumpulkan warga untuk beribadah dan berdoa bersama. Sok bermoral.”

“Lalu apa yang terjadi? Tiba-tiba ada azab dan banjir begitu?”

“Tidak ada yang tiba-tiba. Mulai dari banjir empat tahunan, menjadi banjir tahunan, lalu bulanan, hingga akhirnya pada musim kemarau pun Jakarta tetap kebanjiran. Gubernur sialan itu, malah makin yakin kalau masalahnya adalah ibadah dan doa warganya kurang, sehingga harus diperbanyak lagi. Sampai ada satu hari libur khusus beribadah dan berdoa lho.”

“Dari partai mana gubernur itu?”

“Dari partai agamis namun munafik.”

“Sepertinya aku tahu yang mana… Ingatkan aku untuk tidak memilih partai itu kalau aku berhasil kembali ke masaku.” ucapku memelan, galau, “Ya… Kalau…”

Dan aku pun terdiam sambil terus mendayung.

Image

#31dayswriting #Januarychallenge, day #7th! #flashfict

Pada suatu hari, sebuah sosok mungil berkerudung merah menyusuri hutan hingga akhirnya ia mencapai bungalow kayu dengan kebun kecil di sampingnya.

Ia melihat pintu bungalow tersebut terbuka. Sungguh tak wajar. Pikiran buruk sempat terbesit dalam benaknya sehingga ia bergegas masuk ke dalam.

Di dalam, perabotan dan baju-baju terserak berantakan. Pikiran buruk semakin menjadi-jadi ketika ia mendengar suara dari arah kamar tidur. Ia mempercepat langkahnya menuju kesana.

Di dalam kamar tersebut, ada seseorang, atau sesuatu, yang sedang tidur di atas kasur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Akan tetapi beberapa bagian tubuh menjuntai keluar dari selimut. Kecurigaan si tudung merah semakin terbukti.

“Hey… Telingamu besar sekali…” tanyanya ragu-ragu.

“Tentu sayang, agar aku bisa mendengarkanmu dengan lebih baik,” jawab sosok di balik selimut dengan suara parau.

“Matamu juga… kok besar sekali…”

“Tentu sayang, agar aku bisa melihatmu dengan lebih baik.

“Ta-tapi… tanganmu besar sekali…”

“Tentu sayang, agar aku bisa memelukmu dengan leebih erat.”

“Umm… aku… tak tahu, tapi… kenapa mulutmu juga besar sekali…”

“Tentu sayang, agar aku- *uhuk* -maaf sayang,” ucapnya lemah sambil berusaha duduk dan menyingkap selimutnya, “Nenek sedang tidak  enak badan. Badan nenek bengkak semua…

Eh? Kamu kok…”

“Sial, ternyata benar dugaanku, yang tinggal disini hanya seorang nenek-nenek,” ucap sang serigala sambil menurunkan kerudung merahnya, “Ya sudahlah, lumayan sebagai pencuci mulut setelah aku memakan anak perempuan tadi.”

Dan sang nenek pun masih terbelalak tidak percaya ketika serigala itu lompat menerkamnya.

1526952_10202765135705966_729681516_n

#31dayswriting #Januarychallenge, day #4th! #flashfict

Tadinya aku mau menceritakan sesuatu disini.

Tapi aku lupa.

Apa ya yang ingin aku ceritakan? Aduh aku benar-benar tidak bisa mengingatnya.

Kalau begitu aku bercerita dulu sedikit tentang diriku.

Namaku Nanasy, ceritanya orang tuaku terinspirasi dari sebuah anime Jepang. Harusnya Nanashi, atau setelah aku cari sendiri bahasa Indonesianya adalah, tak bernama. Blank. Kosong. Tabula rasa. Intinya seperti sebuah lembaran baru dimana aku bisa memilih sendiri apa yang aku inginkan dalam hidup.

Hanya saja dengan ejaan Nanasy, itu bukan bahasa Jepang, itu lebih mirip bahasa Arab, ننسى, yang artinya lupa.

Sekarang, aku agak menyesal atas nama itu. Aku sangat pelupa. Aku melupakan tugas-tugasku dan seringkali meninggalkan berbagai hal di tempat yang tidak seharusnya.

Kemarin saja, aku pergi ke sekolah naik sepeda. Sedangkan pulangnya, aku jalan kaki. Aku baru ingat sepedaku tertinggal saat sorenya ketika ditelepon oleh penjaga sekolah.

Sifat pelupaku memang sudah akut. Semua semua lupa. Oh, aku sekarang ingat apa yang ingin kuceritakan.

(lebih…)

#31dayswriting #Januarychallenge #2nd day! #flashfict

Jumat siang.

Aku berlari tergesa, meliuk ke kanan dan ke kiri menghindari massa. Tanganku hampir saja mengenai sebuah minuman yang dibawa oleh seorang tante-tante gendut, untung aku sempat menyadarinya dan cukup sigap untuk sedikit bermanuver menghindar. Namun tetap saja, aksi akrobatikku itu menuai teriakan dari si tante gendut yang kaget.

Jam besar di atas air mancur sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku terpaksa mempercepat lajuku lagi karena sudah sangat terlambat. Dari kejauhan, meja pojok di pinggir jalan favorit kami sudah terlihat dengan dua sahabatku sedang ngobrol asyik disana, Lark yang berkulit hitam namun kekar bersama Robin yang putih dan cantik.

Aku langsung mendarat di atas kursi di antara Robin dan Lark.

“Hei!” ucapku nyengir terengah-engah menyapa mereka.

(lebih…)

#‎31dayswriting‬ ‪#‎Januarychallenge‬ #1st

Aku terkesiap membuka mata hingga terduduk dari tidur. Tergagap, terbata, namun tidak ada sedikitpun suara keluar.

Baru saja rasa sakit teramat sangat menyeruak ke seluruh syaraf tubuhku. Baru saja. Ototku robek, tulangku remuk, otakku muncrat. Bayangan kereta yang menghantamku pun masih terpatri jelas dalam ingatan.

Namun sekarang semua rasa itu hilang, hanya menyisakan perasaan merinding dan bergidik di sekujur tubuhku.

“Bangunlah.” sebuah suara berat berwibawa menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh ke arah suara itu.

Suara itu berasal dari atas, dari pojok-pojok ruangan berwarna putih menyilaukan ini.

“Selamat datang di surga.” ucap suara itu datar.

Surga? Ini sangat absurd bagi diriku yang merupakan seorang atheis. Ini sungguh tidak mungkin.

“Kamu sudah berperilaku baik selama di dunia. Itu sudah cukup.” lanjut suara itu seakan mengerti apa yang kupikirkan, “Silakan, pilih sendiri surgamu.”

(lebih…)

Gw baru-baru ini nonton video klip dari Nidji dan gw terpesona. Lagu yang sejak awal memang enak didengar itu kali ini dibawakan dengan sangat apik di layar kaca.

Sinematografi yang mantap, serta pemandangan alami yang begitu indahnya. Liriknya pun sangat inspirasional dan memotivasi.Tentang impian yang tak lekang oleh waktu dan tak habis digerus kenyataan yang kejam.

Pokoknya lagu ini bener-bener bikin gw semangat menjalani hidup. Jadi pingin menghidupkan lagi rencana backpacking gw dulu yang sempat gagal dijalankan.

Eniwei, buat yang belum pernah liat, silakan diintip yang di bawah ini.

Nah, sekalian ditonton, mari kita nyanyikan bersama dengan lantang agar lebih maknyuss! Langsung gw kasih juga ni teks karaokenya!

Mimpi adalah kunci…
Untuk kita menaklukkan dunia…
Telah hilang
Tanpa lelah sampai engkau
Meraihnya

Laskar pelangi…
Takkan terikat waktu…
Bebaskan mimpimu di angkasa
Raih bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia… selamanya…

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau ini kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi…
Takkan terikat waktu…
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia takseindah surga
Bersukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia… Selamanya…

Kalo mau donlot mp3nya, bisa didonlot di sini

Aah, gw pengen jalan-jalan ke belitong juga jadinya.

Taqoballahu wa minna wa minkum.

Minal aidzin wal faidzin.

Mohon maaf lahir dan batin.

 

 

Well, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan.🙂

Gambar diambil dari sini.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.