Welcome back to my blog. Ya, seperti yang lu liat gw udah berbulan-bulan ngga meng-update blog gw. Bukan karena malas atau apa, tapi karena bener-bener ngga ada bahan untuk diblogkan. My life really sucks these days…
Nah berhubung gw baru saja nonton film laskar pelangi, gw jadi punya bahan ngepost. Berikut review dari gw :
Laskar pelangi bercerita tentang 10 orang sahabat yang bersekolah di sebuah sekolah kecil di daerah Belitong. Sepuluh orang sahabat ini dijuluki oleh guru mereka “Laskar Pelangi”, karena semangat mereka untuk maju, untuk mengejar cita-cita, untuk mengejar “pelangi” mereka. Kisah ini tentang persahabatan, cita-cita, determinasi, dan nilai norma.
Kisahnya sendiri sangat menarik. Maklum cerita ini diadaptasi langsung dari tetralogi berjudul sama yang telah terkenal lebih dahulu, karya sang novelis jenius Andrea Hirata. Settingnya begitu alami. Konfliknya begitu jujur. Benar-benar sangat terasa bahwa kejadian-kejadian ini pernah terjadi dalam kehidupan pengarang, walau ya, mungkin sedikit dihiperbolisi dan dibumbui.
Tambah lagi, ada banyak sekali nilai-nilai yang bisa kita petik dari dialog antar pemainnya. Inspirasional dan memotivasi.
Dengan modal karakter yang kuat serta jalan cerita yang terbukti menarik dalam novelnya, gw berharap sangat banyak dari film ini. Sayangnya, harapan gw agak dikhianati.
Kisah-kisah dipepatkan dan dipaksakan, momen-momen yang seharusnya menarik dan menyentuh perasaan malah tumpul dan dangkal, serta alur dari film itu sendiri yang lempeng dan membosankan.
In the end, gw merasa film ini ngga sebanding dengan gembar-gembornya dimana-mana. Dalam satu jam pertama saja gw sudah ingin berteriak menanyakan kapan semua akan selesai.
Review gw sepertinya berlawanan dengan teman-teman blogger, terutama para fans Andrea dan karya-karyanya. Tapi gw tau apa yang gw tonton and this movie just not worth the hype.
Yang paling gw ngga suka? Semua kelebaian tentang A Ling. Norak dan ngga jelas.
September 26, 2008 at 2:29 am
Wooo Pandiboy ngebandingin ama novelnya. Bukan kritikus film yang baik
Eniwei, menurut gw, di bagian depan ni film emang rada menclok” dan ga jelas arahnya mau kemana, terutama setengah jam pertama.
Tapi, setelah itu baru ceritanya jelas. Lo aja yang mulai ga merhatiin abis itu kali. Menurut gw, sutradaranya, Bang Riri Riza, emang ga mau bikin film yang sama persis kayak novelnya, karena hal tersebut malah bikin filmnya makin dibandingin. Makanya ceritanya rada beda, dan gw sebagai pembaca novelnya menganggap film ini digarap dengan baik, ceritanya ga spoiler buat pembaca novel, mana yang bakal dia tampilin selanjutnya.
Biarpun adegan sama A Ling emang lebai, dan cerita perayaan & naik kincir itu diilangin, yang menurut gw itu satu-satunya point penting yg ga dimunculin di film. But overall, filmnya bagus dan inti pesan yang ada di novel sampe, kok
September 26, 2008 at 3:16 am
Hmm,.
Karena belum sempat menonton langsung, jadi belum bisa berkata banyak,.
Akan tetapi, memang tak semua novel bagus menjadi sama bagusnya ketika dijadikan film,.
September 26, 2008 at 6:30 am
Err, gw belum baca novelnya.
Film ini juga punya bagian-bagian yang indah dan menyentuh, seperti yang gw tulis di paragraf 4 dan 5. Sayangnya overall kurang mengena dan malah jadi membosankan.
Iya, gw akui kesuksesan dari novelnya bikin bar ekspektasi gw tinggi. Konklusinya mungkin: Film ini tidak sejelek itu, tetapi hanya “below expectation”.
September 26, 2008 at 10:47 am
saya ingin seperti ibu guru muslimah ….
September 26, 2008 at 1:51 pm
Kl vandy bilang ga seru, ga jadi nonton ah.
September 26, 2008 at 3:42 pm
Kalo saya ingin seperti Pak Kepsek. Sabar dan bijak.
@ Aswin : Lho, lho…
Seru kok XD. Cuma below expectation aja. Okay, far below expectation. Tapi masih sangat enjoyable. So, just enjoy it guys
September 27, 2008 at 3:48 am
Lum nuntun hiks
September 27, 2008 at 4:36 am
Menurut saya, sutradara malah terlalu maksa masukin semua cerita menjadi adegan dalam film, akhirnya ngga ditampilkan maksimal. Contohnya adegan flo hilang, tiba2 muncul orang teriak2 nyariin Flo. Eh besoknya dia ke sekolah muhammadyah. Harusnya kan ditunjukkan pertentangan batin Flo sehingga dia merasa SD Muhammadyah lebih baik. Tapi kalau pemerannya Flo yang itu sih ngga bakal sanggup sih.
Secara keseluruhan, film ini lumayan deh buat memvisualisasikan novelnya. Tapi kalau untuk menceritakan ulang isi novelnya, menurut saya pesannya ngga terlalu nyampe.
September 27, 2008 at 5:07 am
Berharap apabila kesuksesan di buku LP sama sepertinya filmnya mungkin agak terdengar naif. Translasi film dari novel itu bukan sesuatu yang mudah, apalagi kalau memang buku itu best seller. Sutradara cenderung dibawah tekanan dilema tersebut.
Kerjaan mereka yang lainnya juga berat. Membuat waktu baca berhari – hari dalam novel menjadi dua setengah jam itu sulit, tuan. Bagian – bagian yang penting kadang – kadang harus dibuang demi memenuhi keadaan itu.
Kok yang dilihat sisi negatifnya saja ? Bagi saya, LP ini punya humor cerdas yang bisa bikin ketawa. Kuncinya memang jangan overstimate, lah.
September 27, 2008 at 8:28 am
Bisa dipahami kalau film sama novel jelas beda. Lord of the ring aja ngga mengadop semua cerita dalam novelnya kok. Tapi tanpa membaca novelnya, kita bisa menangkap esensi dan tujuan yang sama yang ingin dicapai baik di film maupun di novel.
Berbeda yang aku lihat di Laskar Pelangi. Tanpa bimbingan novel yang udah pernah kita baca, tujuan dan esensi ceritanya akan beda. Banyak hal2 yang ngga akan dipahami penonton. Contoh kisah Flo itu, atau kisah A-ling. Bahkan kisah Mahar yang berjiwa seni atau klenik.. ngga kesampaian. So.. Riri Riza atau Mira Lesmana harus bersyukur karena film ini diangkat dari novel laris sehingga mayoritas penontonnya udah paham dulu ceritanya, tinggal nyocok2in aja. Makanya banyak yang tidak tersesat dalam mengarikan tujuannya Andrea dalam Laskar Pelangi.
Selebihnya.. film ini cukup menarik kok. Apapun pesan moral yang ditangkap, walaupun beda dengan yang ingin diungkapkan Andrea, Yang jelas sih film ini mendidik dan patut di tonton. Warna baru dunia perfilman Indonesia.
September 27, 2008 at 1:46 pm
Ya kalo nonton film yang diangkat dari novel bagus, jangan terlalu berharap filmnya bakal sebagus novelnya. Jangan dibandingin sama novelnya. Kalau dibandingin, ya jauh lah…
September 27, 2008 at 2:04 pm
Ya benar, sepertinya gw memang memasang ekspektasi terlalu tinggi. Apalagi dengan komentar dari Andrea sendiri seperti ini, dikutip dari sini :
Gw akui, ada poin-poin menarik dalam film ini. Seperti settingnya yang alami dan indah. Dialog-dialog yang inspirasional dan memotivasi. Pembawaan konflik yang begitu jujur. Beberapa humor cerdas.
Namun banyak pula poin yang perlu diperbaiki. Misal, hampir tidak adanya klimaks dalam film ini membuat semua terasa sangat datar. Hambar. Membosankan. Atau usaha berlebihan untuk membagi sensasi cinta Ikal terhadap A Ling yang justru menjadikannya norak.
Tapi ya, masih layak tonton kok. Terutama jikalau kalian penasaran dengan visualisasi dari novelnya.
September 27, 2008 at 2:32 pm
hehehehe kalau elo baca novelnya, memang sensasi cinta Ikal ke A Ling itu norak abis kok, tapi justru di situlah indahnya.
Apalagi kalo elo baca buku ketiganya yang Ikal ngamen jadi manusia patung keliling Eropa dan Afrika sambil nyari A Ling.
Gw belum nonton filmnya sih, lagi di rantau. Padahal jadi obsesi gw banget nih nonton film ini. Penasaran apakah bisa memberi sensasi yang sama yg gw peroleh dari bukunya. Gw baca bukunya sampe ketawa ngakak di beberapa bagian dan nangis sesunggukan di bagian lain. Dan gw bacanya di perjalanan ke luar kota naik bis umum, sampe bule di sebelah gw bingung liat orang baca buku sampe segitunya.
Memindahkan novel sebagus ini ke format film pasti nggak mudah, apalagi karakter tiap tokohnya diceritakan begitu kuat dan jelas di novel, bisa2 membutuhkan satu episode tersendiri buat tiap tokoh. Kalau begitu filmnya bisa lebih dari 4 jam.
Oktober 5, 2008 at 8:05 am
[...] Review : Laskar Pelangi [...]
Oktober 6, 2008 at 6:18 pm
film laskar pelangi seharusnya bisa lebih.. ^^
*You’ll Never Walk Alone*
Oktober 9, 2008 at 11:36 am
memang selalu ada yang kurang dan kita selalu minta lebih…dan harus ada yang lebih dari ini….
tapi untuk saat ini
Novel , Film, Sountracknya
menurut-ku top abizzz ….
lagu ‘ Lintang ‘ dibawain Netral
gahar n keren…
Majulah Indonesia-KU…
Oktober 10, 2008 at 12:26 am
tetap tidak tertarik untuk menonton maupun membaca novelnya…
entah….
Oktober 23, 2008 at 2:09 am
walaupun filmnya gak sama dengan novelnya tapi el salut bisa buat film yang mendidik
go up indonesia movie
Oktober 28, 2008 at 6:47 am
Alhamdulillah saya berhasil ngantri tiket LP di Megamal Pontianak setelah tayang 2 minggu, itupun hampir kehabisan kalau saja saya terlambat setengah jam saja untuk pertunjukan terakhir jam 9 malam. Memang animo masyarakat begitu luar biasa untuk menonton meskipun sudah dibuka 3 studio.Dari segi cerita, film ini memang sangat menarik meskipun agak berbeda dari novelnya. Saya paling takut sama cerita di novel yang menceritakan laskar pelangi bermain hujan, lalu ada yang berpura2 mati. Waktu membacanya saya sempat berpikir inikah akhir cerita LP. Tapi sayang, di filmnya nggak ada…
Dari segi penokohan masih kurang maksimal, tidak seperti di novel yang luar biasa. Karakter Ikal pun tidak terlalu dalem. Saya hanya suka karakter si Mahar yang natural dan kocak. Si Lintang pun tidak begitu tergambarkan kejeniusannya. Jadi hampir semua tokoh LP tidak terlalu nampak penokohannya seperti di novelnya. Yang cukup bagus saya kira hanya di permainan kata-kata dan dialog yang begitu menggugah.
Dari segi casting, anggota LP begitu luar biasa, apalagi si Lintang dan Mahar. Natural!!yang cukup mengganggu adalah Tora yang jadu guru PN. Pas pertama muncul di layar kirain nonton Extravaganza. Bener2 lucu and nggak cocok jadi guru. Bu Mus, lumayanlah, tapi saya benar2 nggak dapat spirit gurunya seperti di buku. Mungkin cocoknya diperankan oleh Inneke, neno Warisman atau Anneke Putri, atau Astri Ivo, atau malah orang yang ndak dikenal. Pak Harfan oleh Ikranegera, keren..!! Yang lain2 so far nggak berpengaruh kalau diperankan mereka.
Ya, begitulah sangat susah untuk mencapai kesempurnaan. Tapi karya besar Riri dan Miles sangat patut kita hargai karena budaya kita sangat pelit untuk memberi pujian.
Semoga LP menjadi film terbaik sepanjang masa…